Butuh bantuan? Periksalah situs Dukungan kami


Manfaat Teroris Dalam Kehidupan

  1. Manfaat Teroris Dalam Kehidupan

    Kegiatan terorisme memang patut (bahkan wajib) untuk dikecam. Karena kegiatan tersebut telah menciptakan petaka luar biasa bagi kehidupan umat manusia.
    Padahal Tuhan telah mewanti-wanti dalam kitab suci agar manusia senantiasa menjaga kedamaian dan kebersamaan hidup serta melarang keras aktivitas merusak. Namun apa mau dikata. Ternyata ada sebagian manusia yang (kabarnya) berpegang pada prinsip dan nilai ketuhanan justru menjadi agen dari kegiatan anti-ketuhanan (terorisme).
    Terorisme, atau bisa disebut dengan kegiatan merusak, adalah pekerjaan yang maha buruk dan maha berdosa. Terorisme merusak semua konstruksi bangunan kehidupan manusia. Apakah itu kehidupan sosial kemanusiaan maupun hubungan manusia dengan Tuhannya. Dengan demikian sesungguhnya terorisme tidak tercatat pada kamus agama manapun yang mengajarkan dua pembinaan hubungan manusia, yang dalam bahasa agama (Islam) disebutkan sebagai hablumminannas wa hablumminallah. Karenanya, menjadi sebuah ‘kesesatan’ yang nyata jika para penebar teror mengaku sebagai pemeluk agama yang taat sementara mereka merusak prinsip agama itu sendiri.
    Namun begitu, sebagai umat beragama yang meyakini bahwa segala sesuatu dalam kehidupan diciptakan oleh Tuhan, kita juga harus mengakui bahwa adanya kegiatan terorisme itu bisa sangat jadi merupakan buah hasil skenario Tuhan untuk menyempurnakan kehidupan. Apalagi jika kita yakin ada “kehendak Tuhan” bermain dalam kehidupan manusia. Mustahil teror terjadi tanpa diiringi kehendak Tuhan.
    Sebagaimana terorisme, Tuhan juga menjadikan Iblis sebagai simbol kejahatan untuk menegaskan adanya nilai-nilai kebaikan. Seperti Tuhan juga menjadikan sakit sebagai penegas adanya kondisi sehat dan sebagainya. Jadi, setiap kondisi dan situasi yang ada di kehidupan sangat jelas merupakan buah karya tangan Tuhan. Ini menjelaskan bahwa kegiatan terorisme yang merupakan salah satu unsur dari kejahatan pun demikian, ada karena “kehendak” Tuhan.
    Kemudian muncul sebuah pertanyaan yang menjadi kebingungan saya hingga saat ini: Jika Tuhan mengutuk perbuatan jahat lantas mengapa Ia menciptakannya? Lalu mengapa Tuhan menciptakan kondisi negatif dalam kehidupan manusia di samping Tuhan sendiri memerintahkan manusia untuk selalu berada dalam kondisi positif?
    Seorang teman saya mencoba memberi jawaban, “Biar kehidupan itu lebih kelihatan hidup.” Ditambahkan lagi katanya biar hidup itu ada dinamikanya. (Entah apa maksudnya).
    Secara sederhana ia menjelaskan, bahwasanya Tuhan menciptakan kondisi sakit sesungguhnya agar manusia mengerti bahwa ada yang namanya kondisi sehat. Dengan demikian pada gilirannya manusia akan berupaya mencari tindakan untuk mengobatinya.
    Di sini akhirnya manusia akan senantiasa mencurahkan segala kemampuan yang dikaruniai Tuhan untuk mencari dan terus mencari solusi guna mencegah dan mengobati sakitnya itu.
    Sedangkan teror yang akhir-akhir ini kerap terjadi juga mempunyai kontribusi penting dalam kehidupan manusia. Logikanya, dengan adanya teror maka institusi keamanan seperti Kepolisian dituntut untuk lebih mengoptimalkan peranannya dalam melindungi dan menjaga stabilitas keamanan hidup manusia. Pada akhirnya diharapkan akan adanya peningkatan kualitas seluruh penunjang kehidupan terus dilakukan menuju pada kesempurnaannya. Inilah yang teman saya katakan hidup itu ada dinamikanya. Dan, hidup akan lebih hidup jika manusia terus berupaya mencari solusi-solusi untuk menunjang kesempurnaan tatanan kehidupannya.
    Artinya, kegiatan teror yang belakangan kian ramai dilakukan para teroris mempunyai kontribusi yang besar pada tatanan kehidupan manusia. Setidaknya dengan adanya aksi teroris, aparat berwenang jadi semakin sadar akan kealfaannya dan senantiasa melakukan perbaikan-perbaikan dalam menjalankan tugas pengamanannya. Semakin berkembang aksi teroris yang dilakukan, akan berkembang pula teknik polisi dalam menanganinya.
    Kontribusi dari aksi teroris yang besar telah pula dirasakan oleh negara adidaya di dunia, Amerika Serikat. Pasalnya, setelah adanya aksi teroris di New York pada 11 September 2001, sekarang Amerika Serikat bisa menguasai negara Afghanistan dan Irak yang kaya akan sumber daya alam yang dibutuhkan oleh Amerika.
    Nah, kontribusi teroris untuk Indonesia saat ini setidaknya bisa sedikit mengalihkan berita yang akhir-akhir ini tengah ramai manjadi sorotan publik. Dengan adanya berita penangkapan “calon” teroris (karena belum melakukan aksinya), polisi sedikit banyak dapat melepas lelah dari kasus para markus.
    Kita juga sejatinya tidak mengabaikan hukum kasualitas yang menjadi sunatullah dalam memandang setiap peristiwa. Dalam konteks aksi terorisme sangat mustahil jika dilakukan tanpa adanya sebab. Untuk itu dibutuhkan sebuah tindakan preventif bukan kuratif dalam melawan aksi terorisme. Dalam hal ini tampaknya membuka ruang dialog akan lebih elegan dan “cool” dikedepankan dalam melawan aksi terorisme. Dengan demikian kita pun akan tahu sebab-sebab dilakukannya tindakan terorisme sambil berupaya mencari solusi untuk mengikisnya. Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati? Ibarat dalam musim hujan terjadi kebocoran dalam rumah kita, akan lebih bagus membetulkan atap rumah ketimbang harus selalu lelah membersihkan lantainya.

    The blog I need help with is bangrahmat.wordpress.com.

  2. Mudah2an tidak ada lg teroris di negara kita ini. .

  3. Knp tidak nulis di artikel aja om :?:

Topik Ditutup

Topik ini telah ditutup bagi komentar baru.

Tentang Topik ini

Tag