= Tentang artikel yang saya rujukkan memang bicara tentang evolusi burung. Tetapi di sana ada bagian yang menyebutkan masalah asal usul manusia.
= Terus terang kalau kita berdebat tentang "doktrin agama" versus "sains modern", maka saya tidak punya ilmu yang cukup untuk itu.
= Hanya saja, saya ingin menyorot masalah yang Anda katakan sebagai sesuatu yang bersifat doktriner vs logika ilmu pengetahuan (yang Anda tuduh sebagai doktrin agama adalah "seluruh manusia berawal dari Adam dan Hawa", sementara yang Anda maksud sebagai "tahapan berdasar evolusi tertentu" merujuk pada perkataan Anda bahwa "bukti2 ilmiah yang mengarah pada kepahaman bahwa manusia secara fisik, tidaklah diawali dari Adam saja tetapi terbentuk melalui proses evolusi dari spesies2 sblmnya spt beraneka ragam manusia purba yg pernah kita tau").
Saya tertarik dengan pernyataan Anda yang menurut saya sangat ambigu. Minimal Anda adalah "penganut" Agus Mustofa yang menurut Anda "menawarkan sebuah teori baru" dan yang menurut Anda juga "kontroversial tapi masuk akal".
Pemikiran seperti Agus Mustofa itulah bagi saya pemikiran yang ambigu dan bahkan sangat tidak masuk akal. Atau bahkan kalau boleh saya mengatakan "sangat bodoh" (maaf kalau terdengar kasar). Pada satu sisi sebagaimana Anda sebut, Agus Mustofa mengatakan "masuk akal bahwa manusia secara fisik telah terbentuk melalui proses evolusi sbgmn dijelaskan oleh sains modern". Artinya, dalam hal ini dia menolak "dalil agama" bahwa manusia diciptakan begitu saja apa adanya karena dia memakai patokan yang disodorkan para penganut evolusionis yang tentu saja menurut Agus "masuk akal".
Tetapi pada satu sisi Agus mengakui "manusia secara insaani dimulai dari ditiupkan'nya Ruh Allah kepada sebuah makhluk homosapiens yg namanya Adam itu. maka Adam menjadi homosapiens pertama yg memiliki cipta rasa dan karsa alisa 'manusia' pertama".
Menurut saya pemikiran ala Agus itu adalah pemikiran "bodoh" karena kalau dia mengakui adanya "evolusi bentuk/fisik" seharusnya dia juga mengakui adanya "evolusi mental/spiritual". Tetapi dia tidak demikian karena, menurut saya mungkin dia tidak bisa menemukan adanya teori-teori sebelumnya tentang "evolusi mental".
Pertanyaan saya adalah, benarkah evolusi fisik tidak berjalan seiring dengan evolusi mental/spiritual? Benarkah bahwa ketika hari Kamis Adam masih berpola pikir, bermental dan spiritual "hewan", lalu pada Jumat ditiupkan Ruh Allah, lalu hari Sabtunya Adam sudah bermental spiritual manusia? Pertanyaan lebih lanjut adalah, benarkah Allah meniupkan ruh Allah kepada Adam itu hanya sekali tiup langsung jadi; ataukah bertahap seperti halnya pentahapan evolusi fisik?
Pemikiran Agus Mustofa yang masih "mencampuradukkan" antara "sains modern" (evolusi fisik) dan "doktrin agama" (dengan percaya bahwa ada sesuatu yang disebut Allah yang kemudian meniupkan ruh-Nya kepada makhluk yang setara secara spritual dengan hewan yang disebut Adam), itu menurut saya pemikiran setengah matang. Pada satu sisi dia ingin sekali mengikuti pemikiran "sains modern" dan pada sisi lain dia tetap berpegangan pada "doktrin agama".
Pertanyaan berikutnya, jika kita percaya bahwa fisik manusia sekarang ini merupakan wujud hasil evolusi makhluk homosapiens, maka seharusnya kita percaya juga bahwa ketika kepada Adam ditiupkan "ruh Allah" masih banyak homosapiens lain yang sudah berujud seperti Adam. Nah, karena yang mendapat "ruh Allah" hanya satu homosapiens, yakni Adam, lantas pada kemana homosapiens lainnya itu berada? Di mana anak turun mereka? Apakah mereka kemudian musnah semua seketika karena tidak mendapat "ruh Allah" dan karenanya tidak punya cipta, rasa dan karsa?
Pertanyaan berikut (masih dalam konteks pemikiran ambigu Agus Mustofa), di mana dan bagaimana Hawa terbentuk dalam mata rantai evolusi fisik itu? Kapan dan bagaimana "ruh Allah" itu kemudian menular dari Adam kepada Hawa?
Apakah tidak mungkin bahwa yang disebut Adam dan Hawa itu sebenarnya merupakan bentuk jamak dari manusia, yakni suatu kaum atau kelompok masyarakat tertentu yang beranak pinak menurunkan kita-kita ini?
Demikianlah dalam pendapat saya, bahwa pemikiran Agus Mustofa adalah pemikiran keblinger karena bingung ketika dia berlagak mampu mensintesakan antara pemikiran "sains modern" dengan "doktrin agama".
Saya malah sangat salut dan respek kepada para penganut murni teori evolusi yang tidak perlu merasa berepot-repot berpikir tentang "doktrin agama" ketika mengembangkan teori mereka dengan segala asumsi dan hipotesisnya berdasar fakta yang mereka temukan atas fenomena alam.
Dengan demikian, kalau kawan arihaz99 mengajak kita berdiskusi tentang "doktrin agama vs sains modern dalam kaitannya dengan evolusi makhluk hidup" terus terang saya angkat tangan dan tidak punya ilmu untuk "menggabungkan" dua kutup tersebut.
Tetapi kalau saya diajak berdiskusi tentang logika berpikir dan bagaimana seharusnya menyimpulkan sesuatu, insya Allah, saya selalu siap dan oke-oke saja.
==============
Terlepas dari masalah itu, pada suatu masa ketika saya masih muda, saya sering berpikiran binal juga tentang agama, termasuk juga tentang asal-usul manusia, budi pekerti dan bahkan tentang apa yang disebut Allah (dalam konteks agama Islam, yang saya anut).
Apakah tidak mungkin bahwa saat ini merupakan masa-masa kawan arihaz99 memasuki masa-masa saya ketika sangat suka berbinal-ria dengan segala asumsi dan pikiran berdasar "logika" yang ada di kepala setelah mendapat masukan berbagai informasi dunia yang membentang sangat luas di depan mata?
Ketika pada akhirnya saya menyadari bahwa saya tidak mungkin bisa mengumpulkan semua informasi yang relevan dengan apa yang sedang saya pertanyakan, apalagi merangkumnya dalam sebuah simpulan yang benar secara logika dan diterima akal semua manusia, maka saya hanya berserah diri kepada-Nya.
==================
Nah....
Apakah saya sependapat dengan teori evolusi? Bisa jadi ya....
Apakah saya percaya dengan doktrin agama? Saya jawab tegas "iya".
Lalu mana yang saya pilih?
Saya melihat kedua hal itu bagaikan sepasang jalur rel kereta api. Selalu menuju tempat yang sama, meski tidak pernah bisa ketemu di manapun juga.. Tempat yang sama itu sering disebut orang sebagai "kebenaran".
Darwin dan para pengikutnya, mereka memeras otak sepanjang hidup mereka untuk mengembangkan teori evolusi semata-mata karena ingin memberi jalan kepada manusia untuk mendapatkan "kebenaran".
Agama diturunkan ke dunia, juga semata-mata agar manusia mendapatkan "kebenaran".
Cobalah Anda pertemukan ujung dua rel pada satu titik yang sama, maka kereta api akan terjungkir balik bahkan sebelum mencapai titik pertemuan kedua rel itu tersebut.
Oleh karena itu ketika Agus Mustofa mencoba menggabungkan "sains modern" dengan "doktrin agama", maka saya hanya bisa tertawa-tawa. Namun keberanian dia untuk saya tertawakan (ya barangkali memang hanya saya yang cupet otak sehingga hanya saya yang tidak bisa mengikuti pemikiran dia "yang brilian atau kontroversial tetapi masuk akal", harus saya acungi jempol. Sebab saya pun tahu, dia juga sedang mencoba mencari sebuah "kebenaran".
Selamat berdiskusi....